Bangau Kertas, Saksi Berakhirnya Kisah Cinta Kita

            “Masih belum ada yang menggantikan posisinya di hatiku.”
***
            Aku masih ingat betul hari itu. Hari dimana aku berjumpa dengannya untuk yang pertama kalinya. Muncul pemikiran dalam benakku, apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Tak bisa kupungkiri, namun itulah kenyataannya. Menyimpan perasaan pada seseorang yang merupakan orang asing di kehidupanku.
            “Apa mungkin semua ini ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa?”
           
Pertemuanku dengannya berlangsung sangat singkat. Sangat diam dan membisu. Tanpa kontak mata, tanpa kontak fisik, maupun kontak batin. Diriku layaknya seorang orang yang benar-benar asing di matanya. Entah mengapa kala itu mataku langsung dapat tertuju pada dirinya, menemukan dirinya tepat di sela-sela kelam kehidupanku, tepat saat aku merasa bahwa semangat dalam diri ini sudah melayang lepas ke udara bebas. Debar jantungku yang begitu bergumuruh juga telah kurasakan kembali setelah sekian lama tak pernah kurasakan. Ya, kurasa aku menemukan seseorang yang pantas untuk masuk ke dalam relung hatiku.
            Sejak hadirnya sosok itu, hari-hariku semakin berwarna. Aku semakin semangat dalam menjalani hari-hari, terutama kegiatan persekolahanku. Prestasiku meningkat seiring waktu, karena dirinya yang menjadi motivasiku berkegiatan setiap hari. Tak lupa aku mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah dikaruniakan kepadaku, yaitu hadirnya sosok orang asing itu.

            Aku tak dapat memendam perasaan ini begitu lama. Lalu kuputuskan untuk memulai percakapan dengan orang asing itu walaupun hanya dari sebuah jejaring sosial, setelah aku memikirkan matang-matang bagaimana aku akan menghadapi percakapan dengannya nanti. Teman-temanku berkata bahwa aku sudah gila, karena menyalahi kodrat seorang perempuan yang seharusnya menunggu pihak laki-laki memulai terlebih dahulu. Aku tak peduli. Yang kutahu hanya diriku telah berusaha dengan segala keberanian untuk membuka percakapan dengannya.
***
            Perjuanganku tidak sia-sia. Selama hampir satu bulan dekat dengannya, aku merasa makin nyaman. Perasaan cintaku terhadapnya semakin mendalam. Aku selalu memikirkannya. Terkadang aku menangis di tengah heningnya malam karena lelah akan sikapnya yang cuek. Aku pun mulai bersikap egois. Aku tak ingin ada orang lain yang mendapatkan dirinya selain diriku.
            Seiring berjalannya waktu, kusadari bahwa jarak di antara kami semakin dekat. Namun, tiba-tiba aku merasakan keraguan dalam hatiku, apa ini benar-benar cinta atau hanya sekadar gurauan belaka? Tapi, aku tak menghiraukan keraguan itu. Aku tetap memperjuangkan cinta ini. Dan benar saja, akhirnya kami berdua berhasil bersatu, menjadi insan yang dipadukan oleh cinta. Namun kembali keraguan itu muncul. Apa ini benar-benar cinta atau hanya sekadar gurauan belaka?
            Sejak hari itu, aku berusaha untuk terus berpikiran positif akan hubungan ini. Aku tak ingin mengulangi kejadian yang sama seperti apa yang pernah kualami sebelumnya. Aku tak ingin lagi merasakan kegagalan dalam membina hubungan. Yang aku inginkan hanyalah menjalani suka dan duka bersama orang yang kucintai, yaitu orang yang sebelumnya merupakan orang asing dalam kehidupanku.
            Hubungan ini berlangsung baik, tidak ada percekcokan ataupun perselisihan di antara kami. Semua masalah dapat kami atasi dengan cara kami sendiri, tanpa amarah dan kekesalan  di hati. Rasa-rasanya seperti mimpi yang benar-benar terwujud, sangat indah.
***
            Tibalah hari ulang tahunnya yang ke-17. Tahun di mana seseorang mencapai tingkat kedewasaannya dan dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Aku telah mempersiapkan hadiah ini. Hadiah sederhana, tidak mahal. Aku membuatnya sendiri, tentu dengan rasa cinta dan hembusan kasih sayang di dalamnya. Bangau kertas. Itulah yang kubuat untuk kuberikan padanya di hari ulang tahunnya. Aku membuat 17 bangau dari kertas origami, menandakan umur yang telah dicapai oleh dirinya, dan kususun dalam sebuah toples.

            Namun, semuanya sia-sia. Benar-benar sia-sia. Memang, kado kecil ini telah sampai dalam genggaman tangannya. Namun, aku tak tahu bahwa ini menjadi akhir dari kisah cinta kami. Hubungan yang pada awalnya tidak terjadi apa-apa, menjadi hilang, lenyap bagai ditelan bumi. Tepat satu hari setelah ulang tahunnya itu, dirinya menghilang, tanpa kabar. Aku telah kehilangan jejaknya. Jejak orang yang sangat kucintai. Sungguh, aku tak rela. Bagaimana bisa semua masalah ini terjadi begitu cepat?

            Kejadian ini memaksaku untuk mulai membiasakan diri menjalani hidup tanpa sosok dirinya di tengah terpaan angin ribut kehidupan.

***

            Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan terlewati. Dirinya kembali hadir. Namun tidak untuk diriku, tidak untuk masuk ke kehidupanku. Tapi untuk orang lain. Mengisi kebahagiaan hidup orang lain. Harapanku yang menyatu bersama lipatan bangau kertas itu sirna begitu saja. Dirinya seperti tak mengenal diriku lagi. Mungkin baginya, diriku bagai orang yang benar-benar asing layaknya sebelum dia mengenal diriku. Apa mungkin dia telah melupakan segalanya? Secepat itukah? Apakah dirinya benar-benar kembali ke kodrat aslinya, yaitu sebagai orang asing di kehidupanku?

            Dia tak tahu, bahwa masih ada getaran di hati ini saat melihat dirinya. Dan dia tak menyadari itu. Tak akan pernah. Memang, dirinya sudah pergi sangat lama, bahkan benar-benar tidak kembali. Tapi aku masih menyimpan rasa ini untuknya—kalau-kalau suatu saat dirinya kembali, dan aku siap untuk menerimanya kembali. Pikiranku berkata bahwa hal ini adalah konyol dan tidak mungkin. Tetapi, aku tidak bisa menolak keinginan hati ini. Aku masih mencintai dirinya.

            “Dapatkah kau kembali padaku untuk sebentar saja? Bolehkah aku meminjam waktumu beberapa detik saja untuk melepas rasa rinduku padamu? Maukah kau berbalik dan mengarahkan pandanganmu kepadaku untuk sebentar saja?”

            Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak dapat berbicara. Hanya berangan-angan. Menatap sesorang yang sempurna di kehidupanku, telah menyempurnakan kehidupan orang lain dan bukan aku. Air mataku tak dapat terbendung. Impian yang selama ini kuidam-idamkan, telah menjadi impian orang lain. Saat inilah aku harus melepaskan egoku sepenuhnya. Aku tak bisa menjadikannya milikku lagi. Ada orang lain yang berhasil mengambil cintanya dari kehidupanku. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa bahagia melihat senyum manis terukir di wajahnya saat bersama seseorang yang bukan diriku, walau sedikit perih. Aku mencoba mengikhlaskan dirinya untuk hidup bahagia bersama orang lain.

            “Bawalah pergi jauh sejuta perasaan yang pernah kupercayakan padamu bersama hancurnya bangau-bangau kertas yang membawa setidaknya satu harapan yang tidak akan pernah terwujud bersamamu.”

            Namun sejujurnya, sulit bagiku untuk membuang rasa cinta itu. Wajahnya masih terukir dan membekas di hatiku. Perasaan itu tetap tersimpan, sampai kapan pun. Sampai hati ini dengan sendirinya mengatakan bahwa ia lelah untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Tapi, aku tidak tahu kapan saatnya itu tiba. Yang jelas, perasaanku tetap sama dan aku tetap menunggunya kembali, sampai detik ini.




-28 April 2016-

                                   

Comments

Popular posts from this blog

11:11

Sinopsis Cerita Pendek "Patung" - Seno Gumira Adjidarma