Bangau Kertas, Saksi Berakhirnya Kisah Cinta Kita
“Masih belum ada yang menggantikan
posisinya di hatiku.”
Pertemuanku dengannya berlangsung sangat singkat. Sangat diam dan membisu. Tanpa kontak mata, tanpa kontak fisik, maupun kontak batin. Diriku layaknya seorang orang yang benar-benar asing di matanya. Entah mengapa kala itu mataku langsung dapat tertuju pada dirinya, menemukan dirinya tepat di sela-sela kelam kehidupanku, tepat saat aku merasa bahwa semangat dalam diri ini sudah melayang lepas ke udara bebas. Debar jantungku yang begitu bergumuruh juga telah kurasakan kembali setelah sekian lama tak pernah kurasakan. Ya, kurasa aku menemukan seseorang yang pantas untuk masuk ke dalam relung hatiku.
Aku tak dapat memendam perasaan ini begitu lama. Lalu kuputuskan untuk memulai percakapan dengan orang asing itu walaupun hanya dari sebuah jejaring sosial, setelah aku memikirkan matang-matang bagaimana aku akan menghadapi percakapan dengannya nanti. Teman-temanku berkata bahwa aku sudah gila, karena menyalahi kodrat seorang perempuan yang seharusnya menunggu pihak laki-laki memulai terlebih dahulu. Aku tak peduli. Yang kutahu hanya diriku telah berusaha dengan segala keberanian untuk membuka percakapan dengannya.
***
Aku masih ingat betul hari itu. Hari
dimana aku berjumpa dengannya untuk yang pertama kalinya. Muncul pemikiran
dalam benakku, apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Tak bisa kupungkiri,
namun itulah kenyataannya. Menyimpan perasaan pada seseorang yang merupakan
orang asing di kehidupanku.
“Apa mungkin semua ini ditakdirkan
oleh Yang Maha Kuasa?”
Pertemuanku dengannya berlangsung sangat singkat. Sangat diam dan membisu. Tanpa kontak mata, tanpa kontak fisik, maupun kontak batin. Diriku layaknya seorang orang yang benar-benar asing di matanya. Entah mengapa kala itu mataku langsung dapat tertuju pada dirinya, menemukan dirinya tepat di sela-sela kelam kehidupanku, tepat saat aku merasa bahwa semangat dalam diri ini sudah melayang lepas ke udara bebas. Debar jantungku yang begitu bergumuruh juga telah kurasakan kembali setelah sekian lama tak pernah kurasakan. Ya, kurasa aku menemukan seseorang yang pantas untuk masuk ke dalam relung hatiku.
Sejak hadirnya sosok itu,
hari-hariku semakin berwarna. Aku semakin semangat dalam menjalani hari-hari,
terutama kegiatan persekolahanku. Prestasiku meningkat seiring waktu, karena
dirinya yang menjadi motivasiku berkegiatan setiap hari. Tak lupa aku mengucap
syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah dikaruniakan kepadaku, yaitu
hadirnya sosok orang asing itu.
Aku tak dapat memendam perasaan ini begitu lama. Lalu kuputuskan untuk memulai percakapan dengan orang asing itu walaupun hanya dari sebuah jejaring sosial, setelah aku memikirkan matang-matang bagaimana aku akan menghadapi percakapan dengannya nanti. Teman-temanku berkata bahwa aku sudah gila, karena menyalahi kodrat seorang perempuan yang seharusnya menunggu pihak laki-laki memulai terlebih dahulu. Aku tak peduli. Yang kutahu hanya diriku telah berusaha dengan segala keberanian untuk membuka percakapan dengannya.
***
Perjuanganku tidak sia-sia. Selama hampir satu bulan dekat dengannya, aku merasa makin nyaman. Perasaan cintaku terhadapnya semakin mendalam. Aku selalu memikirkannya. Terkadang aku menangis di tengah heningnya malam karena lelah akan sikapnya yang cuek. Aku pun mulai bersikap egois. Aku tak ingin ada orang lain yang mendapatkan dirinya selain diriku.
Perjuanganku tidak sia-sia. Selama hampir satu bulan dekat dengannya, aku merasa makin nyaman. Perasaan cintaku terhadapnya semakin mendalam. Aku selalu memikirkannya. Terkadang aku menangis di tengah heningnya malam karena lelah akan sikapnya yang cuek. Aku pun mulai bersikap egois. Aku tak ingin ada orang lain yang mendapatkan dirinya selain diriku.
Seiring berjalannya waktu, kusadari
bahwa jarak di antara kami semakin dekat. Namun, tiba-tiba aku merasakan
keraguan dalam hatiku, apa ini benar-benar cinta atau hanya sekadar gurauan
belaka? Tapi, aku tak menghiraukan keraguan itu. Aku tetap memperjuangkan cinta
ini. Dan benar saja, akhirnya kami berdua berhasil bersatu, menjadi insan yang
dipadukan oleh cinta. Namun kembali keraguan itu muncul. Apa ini benar-benar
cinta atau hanya sekadar gurauan belaka?
Sejak hari itu, aku berusaha untuk terus
berpikiran positif akan hubungan ini. Aku tak ingin mengulangi kejadian yang
sama seperti apa yang pernah kualami sebelumnya. Aku tak ingin lagi merasakan
kegagalan dalam membina hubungan. Yang aku inginkan hanyalah menjalani suka dan
duka bersama orang yang kucintai, yaitu orang yang sebelumnya merupakan orang
asing dalam kehidupanku.
Hubungan ini berlangsung baik, tidak
ada percekcokan ataupun perselisihan di antara kami. Semua masalah dapat kami
atasi dengan cara kami sendiri, tanpa amarah dan kekesalan di hati. Rasa-rasanya seperti mimpi yang
benar-benar terwujud, sangat indah.
***
Tibalah hari ulang tahunnya yang
ke-17. Tahun di mana seseorang mencapai tingkat kedewasaannya dan dapat
menentukan pilihan hidupnya sendiri. Aku telah mempersiapkan hadiah ini. Hadiah
sederhana, tidak mahal. Aku membuatnya sendiri, tentu dengan rasa cinta dan
hembusan kasih sayang di dalamnya. Bangau kertas. Itulah yang kubuat untuk
kuberikan padanya di hari ulang tahunnya. Aku membuat 17 bangau dari kertas
origami, menandakan umur yang telah dicapai oleh dirinya, dan kususun dalam
sebuah toples.
Namun, semuanya sia-sia. Benar-benar
sia-sia. Memang, kado kecil ini telah sampai dalam genggaman tangannya. Namun,
aku tak tahu bahwa ini menjadi akhir dari kisah cinta kami. Hubungan yang pada awalnya
tidak terjadi apa-apa, menjadi hilang, lenyap bagai ditelan bumi. Tepat satu
hari setelah ulang tahunnya itu, dirinya menghilang, tanpa kabar. Aku telah
kehilangan jejaknya. Jejak orang yang sangat kucintai. Sungguh, aku tak rela. Bagaimana
bisa semua masalah ini terjadi begitu cepat?
Kejadian ini memaksaku untuk mulai
membiasakan diri menjalani hidup tanpa sosok dirinya di tengah terpaan angin
ribut kehidupan.
***
Hari demi hari berlalu, bulan demi
bulan terlewati. Dirinya kembali hadir. Namun tidak untuk diriku, tidak untuk
masuk ke kehidupanku. Tapi untuk orang lain. Mengisi kebahagiaan hidup orang lain.
Harapanku yang menyatu bersama lipatan bangau kertas itu sirna begitu saja.
Dirinya seperti tak mengenal diriku lagi. Mungkin baginya, diriku bagai orang
yang benar-benar asing layaknya sebelum dia mengenal diriku. Apa mungkin dia
telah melupakan segalanya? Secepat itukah? Apakah dirinya benar-benar kembali
ke kodrat aslinya, yaitu sebagai orang asing di kehidupanku?
Dia tak tahu, bahwa masih ada
getaran di hati ini saat melihat dirinya. Dan dia tak menyadari itu. Tak akan pernah. Memang,
dirinya sudah pergi sangat lama, bahkan benar-benar tidak kembali. Tapi aku masih
menyimpan rasa ini untuknya—kalau-kalau suatu saat dirinya kembali, dan aku
siap untuk menerimanya kembali. Pikiranku berkata bahwa hal ini adalah konyol dan
tidak mungkin. Tetapi, aku tidak bisa menolak keinginan hati ini. Aku masih mencintai
dirinya.
“Dapatkah kau kembali padaku untuk
sebentar saja? Bolehkah aku meminjam waktumu beberapa detik saja untuk melepas
rasa rinduku padamu? Maukah kau berbalik dan mengarahkan pandanganmu kepadaku
untuk sebentar saja?”
Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku
tak dapat berbicara. Hanya berangan-angan. Menatap sesorang yang sempurna di
kehidupanku, telah menyempurnakan kehidupan orang lain dan bukan aku. Air
mataku tak dapat terbendung. Impian yang selama ini kuidam-idamkan, telah
menjadi impian orang lain. Saat inilah aku harus melepaskan egoku sepenuhnya.
Aku tak bisa menjadikannya milikku lagi. Ada orang lain yang berhasil mengambil
cintanya dari kehidupanku. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa bahagia
melihat senyum manis terukir di wajahnya saat bersama seseorang yang bukan
diriku, walau sedikit perih. Aku mencoba mengikhlaskan dirinya untuk hidup
bahagia bersama orang lain.
“Bawalah pergi jauh sejuta perasaan
yang pernah kupercayakan padamu bersama hancurnya bangau-bangau kertas yang
membawa setidaknya satu harapan yang tidak akan pernah terwujud bersamamu.”
Namun sejujurnya, sulit bagiku untuk
membuang rasa cinta itu. Wajahnya masih terukir dan membekas di hatiku.
Perasaan itu tetap tersimpan, sampai kapan pun. Sampai hati ini dengan
sendirinya mengatakan bahwa ia lelah untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Tapi, aku tidak tahu kapan saatnya itu tiba. Yang jelas, perasaanku tetap sama
dan aku tetap menunggunya kembali, sampai detik ini.
-28 April 2016-
Comments
Post a Comment