Kisah Setangkai Mawar, Tak Lekang oleh Waktu

            Rintik-rintik hujan kian menerpa deras. Membasahi tiap sudut bumi sehingga tak seorang pun dapat luput darinya. Seiring detik yang bergulir, aku tetap sendiri, tanpa seorang pun yang menemani. Sebenarnya, sudah lama aku tak merasakan terpaan hujan seperti ini. Dalam keheningan, suara rintik hujan ini menenangkanku, menentramkan hatiku. Aku sungguh menyukai hujan, sama seperti aku menyukai gelapnya malam, bersama bulan dan bintang-bintangnya. Namun, malam ini aku tak berjumpa dengan bulan dan bintangku, sebab hujanlah yang terlebih dahulu hadir. Setidaknya, hujan masih bersedia hadir untuk menemaniku di sini. Sampai dirinya kembali hadir di tempat ini untuk menemuiku.
            “Berapa lama lagi aku harus menunggunya di sini? Apa sisa waktu yang kupunya masih cukup untuk tetap menantinya kembali?”
***
            Kala itu, dia selalu menemuiku di sini saat fajar tiba. Membawa setangkai mawar yang merupakan bunga kesukaanku. Setiap dia menemuiku, dia pasti tak pernah lupa memberiku setangkai mawar merah yang masih sangat segar. Mawar yang selalu dia petik, langsung dari ladang mawar yang jaraknya cukup jauh dari daerah tempat kami tinggal. Namun, dia tak mempersoalkan hal itu. “Jarak yang kutempuh tak sebanding dengan kebahagiaan diriku saat melihat senyum yang terukir di wajahmu ketika kau menerima mawar ini”, ujarnya pelan.
            Kata-katanya itu mampu meluluhkan hatiku. Suara yang terdengar pelan, lembut, dan penuh kasih sayang membuatku makin terbuai karenanya. Pipiku langsung merah merona saat dia mengatakan hal-hal manis seperti itu. “Aku tahu, inilah jurus andalanmu untuk membuatku semakin cinta padamu”. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia langsung memelukku erat. Sungguh, dia membuatku tak dapat berkata-kata lagi. Jantungku berdegup semakin kencang. Saat itu, hatiku berkata bahwa aku benar-benar mencintai dirinya dan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya dalam segala kondisi. Namun, aku tak menyangka bahwa ternyata pelukan itu merupakan pelukan terakhir bagi kami.

***

            Mawar-mawar pemberiannya itu lama-kelamaan layu karena waktu tak lagi mengizinkannya untuk hidup di alam bumi ini. Namun, kuyakin, cinta si pemberi mawar itu tak akan pernah layu seperti mawar-mawar itu.

  Ternyata, dugaanku salah. Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku, dia menghilang tanpa kabar. Tak kunjung datang meskipun fajar telah berganti senja. Sampai suatu ketika, sebuah surat menghampiriku. Kekasihku yang mengirimnya padaku. Dalam suratnya, dia meminta maaf padaku karena dia tak memberitahuku terlebih dahulu akan kepergiannya yang mendadak, tepat di hari ulang tahunku. Dia sendiri bahkan tidak tahu apabila orang tuanya memiliki jadwal keberangkatan hari itu, dan dia harus ikut bersama mereka. Sayang, dia tak membeberkan alasan mengapa dia harus ikut pergi bersama orang tuanya. Tentu hal ini sangat membuat batinku terguncang hebat. Rasanya hatiku dipenuhi kesesakan karena kepergian dirinya itu.

            “Setega itukah dirinya? Apakah waktu memang tidak mengizinkan kami untuk menjalani kisah cinta kami bersama? Apakah waktu memang menakdirkan kami untuk berpisah seperti ini?”

            Di akhir suratnya, dia berjanji akan kembali. Yang jelas, nanti, dia akan menemuiku di tempat yang sama seperti yang dilakukannya saat fajar tiba. Kata-katanya membuat bibirku sejenak menyunggingkan senyum kecil di wajahku.

            “Tapi, aku tak tahu kapan dia akan kembali.”

***

            Hari demi hari berlalu. Diriku tetap sama. Setia menunggu di tempat dirinya akan kembali. Hal yang membuatku sedih, dia belum juga kembali. Aku tak tahu mengapa dia pergi selama itu. Tak seperti biasanya dia sanggup bertahan untuk berpisah denganku dalam waktu yang lama.

            Selama itu juga, aku tak mendapat mawar dari siapapun, sedangkan waktu telah melayukan mawar-mawar pemberian kekasihku. Maka, kuputuskan untuk menanam mawarku sendiri di tempat itu. Kupupuk, kurawat mawar-mawar itu dengan penuh cinta kasih, sama seperti aku memupuk cintaku kepada dirinya. Hari demi hari, mawar-mawar itu tumbuh dengan indahnya. Satu per satu kian merekah saat fajar menyongsong.

            Rasanya, semangatku pulih kembali berkat adanya mawar-mawar itu. Kuharap, mereka dapat menjadi temanku yang setia menemaniku untuk menagih janjinya itu. Sejak itu, halaman belakang rumah kecilku itu berubah menjadi sebuah ladang mawar. Seringkali aku melihat pasangan yang berjalan bersama menyusuri ladang mawarku itu. Tiba-tiba, ingatan lamaku langsung menyapaku lembut.

            Kala itu langit masih gelap, matahari belum menampakkan dirinya. Diriku berdiri di halaman belakang rumah untuk menunggu kehadiran kekasihku. Nampak dari kejauhan, dia berlari menujuku dengan membawa setangkai mawar merah yang baru dipetiknya. Saat dia telah berada di hadapanku, dia memelukku, dan mendaratkan bibirnya tepat di dahiku. Bibirku bungkam. Bagiku, dia adalah lelaki paling romantis di dunia ini. Lelaki yang mengisi hampanya hatiku karena lama tak berpenghuni akibat masa lalu paling kelam yang pernah kualami. Dia rela melakukan apapun demi membuatku bahagia. Pernah suatu hari, dirinya yang sedang sakit tetap memaksa ingin bersamaku sampai malam hari menyapa. Melukis gelapnya malam dengan berbagai harapan dan angan yang ingin kami wujudkan bersama-sama, dengan disaksikan bulan dan bintang-bintang di angkasa. Juga ditemani dengan hembusan angin malam yang dinginnya sampai menusuk tulang dan kalbu.

            Lamunanku pecah ketika kurasakan angin senja mulai bertiup dengan kencang, menandakan akan turun hujan. Dan benar, langit mulai menurunkan titik-titik air yang makin lama menderas. Sengaja aku tak membawa payung saat itu, sebab aku ingin mengulang kembali kenangan lama bersama kekasihku yang telah lama menghilang.

            Sebelumnya, aku dan dirinya pernah menghabiskan malam di tempat ini bersama-sama. Bahkan, ketika hujan turun, kami tak juga beranjak pergi atau mencari tempat berteduh. Kami terus melangkahkan kaki kami menyusuri jalan setapak di sini. Dia merangkul diriku mesra, seolah-olah dia tak mau kehilangan diriku. Kami melewati malam itu bersama, sampai hujan mereda, sebab kami berdua sangat menyukai hujan dan bunyi rintik hujan yang jatuh ke tanah. Kegemaran kami akan hujan sebenarnya unik, merelakan tubuh kami dibasahi oleh rintik hujan yang jatuh ke bumi, kapanpun itu, sekalipun hari telah malam. Sebagian orang menganggap kegemaran kami sungguh aneh. Walau begitu, tak sedikit pun mengurangi rasa cinta kami satu sama lain. Malah menambah kedekatan kami semakin menjadi.

           Tapi, semuanya sudah berbeda sekarang. Sampai saat ini, diriku masih belum mendapati dirinya kembali, belum menepati janjinya. Aku merasa perkataannya dalam surat itu hanya omong kosong. Aku begitu saja terhipnotis kata-katanya, sehingga aku tetap menantinya sampai saat ini. Sejak awal, sebenarnya aku tak sepenuhnya yakin akan perkataannya. Aku cinta padanya, tapi mengapa aku tak mampu memercayainya sepenuhnya?   “Apa rasa cintaku ini hanya rasa yang timbul akibat kekaguman akan dirinya? Kalau memang begitu, mengapa hatiku tetap memaksaku untuk tetap menunggunya kembali, padahal sisa waktu yang tersisa bagiku sudah sangat sedikit?”

            Namun, sejak itu, tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain menunggu. Sepertinya, alam masih memberiku secercah waktu untuk tetap menunggu sampai harinya itu tiba, tanpa mengurangi sedikit pun rasa cintaku padanya.

***

            Beberapa tahun kemudian, setelah semua mawar di ladangku layu, dirinya kembali hadir. Menemuiku, tepat di tempat yang sama ketika kami terakhir berjumpa. Dengan jelas aku dapat melihat matanya sibuk mencari ke sana kemari untuk menemukan diriku. Aku berada begitu dekat dengannya, namun ternyata dia tak dapat melihat rupaku. Aku bahkan tak sadar bahwa waktuku di dunia ini sudah habis, sehingga kekasihku sendiri tak dapat melihatku. Hatiku terasa seperti tercabik-cabik karena kusadar bahwa aku tak dapat meraihnya kembali walaupun aku bisa melihat dirinya. Ragaku tak dapat lagi memeluk raganya, sebab dunia kami sudah berbeda. Seketika itu juga, cahaya semangat dalam diriku mulai meredup perlahan. Namun, sebelum keseluruhan cahaya semangat itu padam, Sang Waktu menampakkan dirinya dalam rupa manusia, sebagai seorang wanita paruh baya.

            “Kumohon jangan lakukan ini, Nak. Apa kau sadar bahwa perbuatanmu ini membuat sisa kehidupanmu semakin sedikit?”

            “Tak ada gunanya lagi aku hidup. Aku telah berpisah dengan kekasihku. Aku juga telah kehilangan waktuku untuk merajut cintaku bersamanya. Lebih baik aku mati daripada aku hidup dalam kehampaan seperti ini. Aku tak sanggup.”

            “Tidak. Jangan pernah sekalipun mengatakan hal itu lagi di hadapanku. Kau tahu, aku sungguh tak menyukai kata-kata seperti itu. Apa kau sadar kau sedang berhadapan dengan siapa? Inilah aku, dalam rupaku sebagai manusia, aku akan mencoba mengembalikan kebahagiaanmu kembali, tentu dengan restu Sang Khalik. Aku akan berbicara dengan lelaki itu mengenai dirimu. Kuharap itu akan membuat hatimu tenang kembali.”

            Sang Waktu pun menemui lelaki itu dan berbicara padanya.

            “Wahai pemuda, sungguh, kutahu kau pasti sangat menyesal. Bagaimana tidak, kau telah pergi bertahun-tahun meninggalkan seseorang yang sangat kau cintai. Sekalinya kau kembali, dirinya sudah tiada. Raganya, rupanya, benar-benar telah meninggalkan dunia ini dan juga dirimu. Ketahuilah, Nak. Hatinya masih sama seperti dahulu. Dia masih menyimpan rasa itu. Rasa yang sama seperti kala terakhir kau luput darinya.”

            Aku hanya dapat memandangi kekasihku. Ingin sekali aku memeluknya. Namun, apa daya tangan tak sampai. Kulihat dirinya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dirinya hanya tertunduk dan menangis. Kekasihku memohon padanya agar dapat menemuiku untuk yang terakhir kalinya. Wanita itu pun mengantarnya ke tempat diriku berbaring, di mana terdapat banyak ilalang liar yang tumbuh sembarangan karena tidak ada yang membasminya.

            Akhirnya, dengan restu Sang Khalik, rupaku dapat dilihat oleh kekasihku. Namun, Sang Waktu hanya memberiku lima menit saja. Aku merangkul kekasihku itu, memeluknya erat, mencium dahinya dengan lembut, dan mulai kuutarakan perasaanku.

            “Maafkan aku. Semuanya sudah terlambat. Kau seharusnya tak perlu repot-repot untuk kembali. Kau seharusnya sudah tahu bahwa kau benar-benar terlambat. Sudah tak ada gunanya lagi kau berada di tempat ini. Alam kita sudah berbeda, sayang. Kau harus cepat-cepat mencari pengganti diriku. Harus ada wanita lain yang membahagiakanmu. Aku yakin, kau pasti akan menemukan seseorang yang lebih pantas mendampingi kehidupanmu. Dan tentu saja, seseorang itu bukan diriku.”

            “Aku tidak akan membiarkan seorang pun menggantikan posisimu di hatiku. Bisakah kau tetap berada di sampingku untuk selamanya? Kau lihat, aku sudah kembali menemuimu. Maafkan aku, sudah meninggalkanmu sangat lama dan baru bisa kembali saat ini. Sayangku, sebenarnya banyak yang menentang kisah cinta kita, namun, aku tak peduli. Kaulah mawar sejatiku, Mawar. Sebuah anugerah terindah yang telah Tuhan percayakan untuk mengisi kehampaan hidupku. Kehadiranmu mengubahku, mengangkatku dari masa-masa terpurukku. Ini semua berkat dirimu, Mawar. Aku sungguh mencintaimu.”

            “Kau tahu? Sudah bertahun-tahun silam aku melalukan hal itu padamu. Dan kau juga telah bertahun-tahun meninggalkanku sendiri. Namun, sudahlah. Lupakan semuanya dan jalanilah kehidupanmu seperti sedia kala, tanpa aku. Juga, lima menit kita akan berakhir sebentar lagi. Terima kasih untuk segalanya, sayang. Aku mencintaimu.”

            “Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku tak ingin berpisah denganmu. Apa artinya diriku tanpa kau di sampingku?”

            Perlahan-lahan, seiring detik-detik lima menit berakhir, aku pun mengatakan kalimat terakhirku kepada Sang Waktu dan kekasihku.

            “Kepada Sang Waktu, terima kasih atas lima menit yang sangat berharga ini. Sekarang jasadku bisa berbaring tenang dengan kedamaian menyelimuti hatinya. Wahai kekasihku, ketahuilah, aku memang sudah berbaring di bawah tanah ini, namun, kau masih tetap bisa menemui diriku. Di atas tempatku berbaring ini tumbuh setangkai mawar merah. Mawar ini akan hidup abadi di sini, sebagai penanda bahwa Mawar telah berbaring tenang dan damai di bawahnya. Temuilah aku ketika fajar tiba, seperti kau biasa menemuiku dahulu. Saat fajar, aku akan datang dengan rupa titik embun paling berkilau yang membasahi mawar ini. Ingatlah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

            Lima menit telah berlalu. Sang Waktu tersenyum kepadaku dan kepada kekasihku. Sejak itu, kekasihku selalu menemuiku tiap fajar tiba. Sampai akhirnya, raganya turut berbaring di sampingku, dengan setangkai mawar merah yang juga tumbuh di sebelah mawarku. Kami berdua terus merajut cinta, baik di tengah teriknya matahari maupun di tengah badai yang bergelora. Yang jelas, kami bersama-sama dapat merasakan kembali rintik-rintik hujan yang membasahi bumi, membasahi kami. Juga melewati ratusan fajar dan gelapnya malam bersama-sama, dengan bulan dan bintang-bintang sebagai saksinya.

            Dia benar-benar menepati janjinya dan tak pernah meninggalkanku lagi.



lopli, 2 Mei 2016




Comments

Popular posts from this blog

11:11

Sinopsis Cerita Pendek "Patung" - Seno Gumira Adjidarma

Bangau Kertas, Saksi Berakhirnya Kisah Cinta Kita