Kisah Setangkai Mawar, Tak Lekang oleh Waktu
Rintik-rintik hujan kian menerpa
deras. Membasahi tiap sudut bumi sehingga tak seorang pun dapat luput darinya.
Seiring detik yang bergulir, aku tetap sendiri, tanpa seorang pun yang
menemani. Sebenarnya, sudah lama aku tak merasakan terpaan hujan seperti ini. Dalam
keheningan, suara rintik hujan ini menenangkanku, menentramkan hatiku. Aku
sungguh menyukai hujan, sama seperti aku menyukai gelapnya malam, bersama bulan
dan bintang-bintangnya. Namun, malam ini aku tak berjumpa dengan bulan dan
bintangku, sebab hujanlah yang terlebih dahulu hadir. Setidaknya, hujan masih
bersedia hadir untuk menemaniku di sini. Sampai dirinya kembali hadir di tempat
ini untuk menemuiku.
“Berapa lama lagi aku harus menunggunya di sini? Apa sisa waktu yang kupunya masih cukup untuk tetap menantinya kembali?”
Kata-katanya itu mampu meluluhkan hatiku. Suara yang terdengar pelan, lembut, dan penuh kasih sayang membuatku makin terbuai karenanya. Pipiku langsung merah merona saat dia mengatakan hal-hal manis seperti itu. “Aku tahu, inilah jurus andalanmu untuk membuatku semakin cinta padamu”. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia langsung memelukku erat. Sungguh, dia membuatku tak dapat berkata-kata lagi. Jantungku berdegup semakin kencang. Saat itu, hatiku berkata bahwa aku benar-benar mencintai dirinya dan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya dalam segala kondisi. Namun, aku tak menyangka bahwa ternyata pelukan itu merupakan pelukan terakhir bagi kami.
Ternyata, dugaanku salah. Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku, dia menghilang tanpa kabar. Tak kunjung datang meskipun fajar telah berganti senja. Sampai suatu ketika, sebuah surat menghampiriku. Kekasihku yang mengirimnya padaku. Dalam suratnya, dia meminta maaf padaku karena dia tak memberitahuku terlebih dahulu akan kepergiannya yang mendadak, tepat di hari ulang tahunku. Dia sendiri bahkan tidak tahu apabila orang tuanya memiliki jadwal keberangkatan hari itu, dan dia harus ikut bersama mereka. Sayang, dia tak membeberkan alasan mengapa dia harus ikut pergi bersama orang tuanya. Tentu hal ini sangat membuat batinku terguncang hebat. Rasanya hatiku dipenuhi kesesakan karena kepergian dirinya itu.
“Berapa lama lagi aku harus menunggunya di sini? Apa sisa waktu yang kupunya masih cukup untuk tetap menantinya kembali?”
***
Kala itu, dia selalu menemuiku di
sini saat fajar tiba. Membawa setangkai mawar yang merupakan bunga kesukaanku.
Setiap dia menemuiku, dia pasti tak pernah lupa memberiku setangkai mawar merah
yang masih sangat segar. Mawar yang selalu dia petik, langsung dari ladang
mawar yang jaraknya cukup jauh dari daerah tempat kami tinggal. Namun, dia tak
mempersoalkan hal itu. “Jarak yang kutempuh tak sebanding dengan kebahagiaan
diriku saat melihat senyum yang terukir di wajahmu ketika kau menerima mawar
ini”, ujarnya pelan.Kata-katanya itu mampu meluluhkan hatiku. Suara yang terdengar pelan, lembut, dan penuh kasih sayang membuatku makin terbuai karenanya. Pipiku langsung merah merona saat dia mengatakan hal-hal manis seperti itu. “Aku tahu, inilah jurus andalanmu untuk membuatku semakin cinta padamu”. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia langsung memelukku erat. Sungguh, dia membuatku tak dapat berkata-kata lagi. Jantungku berdegup semakin kencang. Saat itu, hatiku berkata bahwa aku benar-benar mencintai dirinya dan berjanji tidak akan pernah meninggalkannya dalam segala kondisi. Namun, aku tak menyangka bahwa ternyata pelukan itu merupakan pelukan terakhir bagi kami.
***
Mawar-mawar pemberiannya itu lama-kelamaan
layu karena waktu tak lagi mengizinkannya untuk hidup di alam bumi ini. Namun,
kuyakin, cinta si pemberi mawar itu tak akan pernah layu seperti mawar-mawar
itu.
Ternyata, dugaanku salah. Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku, dia menghilang tanpa kabar. Tak kunjung datang meskipun fajar telah berganti senja. Sampai suatu ketika, sebuah surat menghampiriku. Kekasihku yang mengirimnya padaku. Dalam suratnya, dia meminta maaf padaku karena dia tak memberitahuku terlebih dahulu akan kepergiannya yang mendadak, tepat di hari ulang tahunku. Dia sendiri bahkan tidak tahu apabila orang tuanya memiliki jadwal keberangkatan hari itu, dan dia harus ikut bersama mereka. Sayang, dia tak membeberkan alasan mengapa dia harus ikut pergi bersama orang tuanya. Tentu hal ini sangat membuat batinku terguncang hebat. Rasanya hatiku dipenuhi kesesakan karena kepergian dirinya itu.
“Setega itukah dirinya? Apakah waktu
memang tidak mengizinkan kami untuk menjalani kisah cinta kami bersama? Apakah
waktu memang menakdirkan kami untuk berpisah seperti ini?”
Di akhir suratnya, dia berjanji akan
kembali. Yang jelas, nanti, dia akan menemuiku di tempat yang sama seperti yang
dilakukannya saat fajar tiba. Kata-katanya membuat bibirku sejenak
menyunggingkan senyum kecil di wajahku.
“Tapi, aku tak tahu kapan dia akan
kembali.”
***
Hari demi hari berlalu. Diriku tetap
sama. Setia menunggu di tempat dirinya akan kembali. Hal yang membuatku sedih,
dia belum juga kembali. Aku tak tahu mengapa dia pergi selama itu. Tak seperti
biasanya dia sanggup bertahan untuk berpisah denganku dalam waktu yang lama.
Selama itu juga, aku tak mendapat mawar
dari siapapun, sedangkan waktu telah melayukan mawar-mawar pemberian kekasihku.
Maka, kuputuskan untuk menanam mawarku sendiri di tempat itu. Kupupuk, kurawat
mawar-mawar itu dengan penuh cinta kasih, sama seperti aku memupuk cintaku
kepada dirinya. Hari demi hari, mawar-mawar itu tumbuh dengan indahnya. Satu
per satu kian merekah saat fajar menyongsong.
Rasanya, semangatku pulih kembali
berkat adanya mawar-mawar itu. Kuharap, mereka dapat menjadi temanku yang setia
menemaniku untuk menagih janjinya itu. Sejak itu, halaman belakang rumah
kecilku itu berubah menjadi sebuah ladang mawar. Seringkali aku melihat
pasangan yang berjalan bersama menyusuri ladang mawarku itu. Tiba-tiba, ingatan
lamaku langsung menyapaku lembut.
Kala
itu langit masih gelap, matahari belum menampakkan dirinya. Diriku berdiri di
halaman belakang rumah untuk menunggu kehadiran kekasihku. Nampak dari
kejauhan, dia berlari menujuku dengan membawa setangkai mawar merah yang baru
dipetiknya. Saat dia telah berada di hadapanku, dia memelukku, dan mendaratkan
bibirnya tepat di dahiku. Bibirku bungkam. Bagiku, dia adalah lelaki paling
romantis di dunia ini. Lelaki yang mengisi hampanya hatiku karena lama tak
berpenghuni akibat masa lalu paling kelam yang pernah kualami. Dia rela
melakukan apapun demi membuatku bahagia. Pernah suatu hari, dirinya yang sedang
sakit tetap memaksa ingin bersamaku sampai malam hari menyapa. Melukis gelapnya
malam dengan berbagai harapan dan angan yang ingin kami wujudkan bersama-sama, dengan
disaksikan bulan dan bintang-bintang di angkasa. Juga ditemani dengan hembusan
angin malam yang dinginnya sampai menusuk tulang dan kalbu.
Lamunanku pecah ketika kurasakan
angin senja mulai bertiup dengan kencang, menandakan akan turun hujan. Dan benar,
langit mulai menurunkan titik-titik air yang makin lama menderas. Sengaja aku
tak membawa payung saat itu, sebab aku ingin mengulang kembali kenangan lama
bersama kekasihku yang telah lama menghilang.
Sebelumnya, aku dan dirinya pernah
menghabiskan malam di tempat ini bersama-sama. Bahkan, ketika hujan turun, kami
tak juga beranjak pergi atau mencari tempat berteduh. Kami terus melangkahkan
kaki kami menyusuri jalan setapak di sini. Dia merangkul diriku mesra,
seolah-olah dia tak mau kehilangan diriku. Kami melewati malam itu bersama,
sampai hujan mereda, sebab kami berdua sangat menyukai hujan dan bunyi rintik
hujan yang jatuh ke tanah. Kegemaran kami akan hujan sebenarnya unik, merelakan
tubuh kami dibasahi oleh rintik hujan yang jatuh ke bumi, kapanpun itu,
sekalipun hari telah malam. Sebagian orang menganggap kegemaran kami sungguh
aneh. Walau begitu, tak sedikit pun mengurangi rasa cinta kami satu sama lain.
Malah menambah kedekatan kami semakin menjadi.
Tapi, semuanya sudah berbeda
sekarang. Sampai saat ini, diriku masih belum mendapati dirinya kembali, belum
menepati janjinya. Aku merasa perkataannya dalam surat itu hanya omong kosong. Aku
begitu saja terhipnotis kata-katanya, sehingga aku tetap menantinya sampai saat
ini. Sejak awal, sebenarnya aku tak sepenuhnya yakin akan perkataannya. Aku
cinta padanya, tapi mengapa aku tak mampu memercayainya sepenuhnya? “Apa rasa cintaku ini hanya rasa yang timbul
akibat kekaguman akan dirinya? Kalau memang begitu, mengapa hatiku tetap
memaksaku untuk tetap menunggunya kembali, padahal sisa waktu yang tersisa
bagiku sudah sangat sedikit?”
Namun, sejak itu, tak ada hal lain
yang dapat kulakukan selain menunggu. Sepertinya, alam masih memberiku secercah
waktu untuk tetap menunggu sampai harinya itu tiba, tanpa mengurangi sedikit
pun rasa cintaku padanya.
***
Beberapa tahun kemudian, setelah
semua mawar di ladangku layu, dirinya kembali hadir. Menemuiku, tepat di tempat
yang sama ketika kami terakhir berjumpa. Dengan jelas aku dapat melihat matanya
sibuk mencari ke sana kemari untuk menemukan diriku. Aku berada begitu dekat
dengannya, namun ternyata dia tak dapat melihat rupaku. Aku bahkan tak sadar
bahwa waktuku di dunia ini sudah habis, sehingga kekasihku sendiri tak dapat
melihatku. Hatiku terasa seperti tercabik-cabik karena kusadar bahwa aku tak
dapat meraihnya kembali walaupun aku bisa melihat dirinya. Ragaku tak dapat
lagi memeluk raganya, sebab dunia kami sudah berbeda. Seketika itu juga, cahaya
semangat dalam diriku mulai meredup perlahan. Namun, sebelum keseluruhan cahaya
semangat itu padam, Sang Waktu menampakkan dirinya dalam rupa manusia, sebagai
seorang wanita paruh baya.
“Kumohon jangan lakukan ini, Nak.
Apa kau sadar bahwa perbuatanmu ini membuat sisa kehidupanmu semakin sedikit?”
“Tak ada gunanya lagi aku hidup. Aku
telah berpisah dengan kekasihku. Aku juga telah kehilangan waktuku untuk
merajut cintaku bersamanya. Lebih baik aku mati daripada aku hidup dalam
kehampaan seperti ini. Aku tak sanggup.”
“Tidak. Jangan pernah sekalipun
mengatakan hal itu lagi di hadapanku. Kau tahu, aku sungguh tak menyukai
kata-kata seperti itu. Apa kau sadar kau sedang berhadapan dengan siapa? Inilah
aku, dalam rupaku sebagai manusia, aku akan mencoba mengembalikan kebahagiaanmu
kembali, tentu dengan restu Sang Khalik. Aku akan berbicara dengan lelaki itu
mengenai dirimu. Kuharap itu akan membuat hatimu tenang kembali.”
Sang Waktu pun menemui lelaki itu
dan berbicara padanya.
“Wahai pemuda, sungguh, kutahu kau
pasti sangat menyesal. Bagaimana tidak, kau telah pergi bertahun-tahun
meninggalkan seseorang yang sangat kau cintai. Sekalinya kau kembali, dirinya
sudah tiada. Raganya, rupanya, benar-benar telah meninggalkan dunia ini dan
juga dirimu. Ketahuilah, Nak. Hatinya masih sama seperti dahulu. Dia masih
menyimpan rasa itu. Rasa yang sama seperti kala terakhir kau luput darinya.”
Aku hanya dapat memandangi kekasihku.
Ingin sekali aku memeluknya. Namun, apa daya tangan tak sampai. Kulihat dirinya
tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dirinya hanya tertunduk dan menangis.
Kekasihku memohon padanya agar dapat menemuiku untuk yang terakhir kalinya.
Wanita itu pun mengantarnya ke tempat diriku berbaring, di mana terdapat banyak
ilalang liar yang tumbuh sembarangan karena tidak ada yang membasminya.
Akhirnya, dengan restu Sang Khalik,
rupaku dapat dilihat oleh kekasihku. Namun, Sang Waktu hanya memberiku lima
menit saja. Aku merangkul kekasihku itu, memeluknya erat, mencium dahinya
dengan lembut, dan mulai kuutarakan perasaanku.
“Maafkan aku. Semuanya sudah
terlambat. Kau seharusnya tak perlu repot-repot untuk kembali. Kau seharusnya
sudah tahu bahwa kau benar-benar terlambat. Sudah tak ada gunanya lagi kau
berada di tempat ini. Alam kita sudah berbeda, sayang. Kau harus cepat-cepat
mencari pengganti diriku. Harus ada wanita lain yang membahagiakanmu. Aku
yakin, kau pasti akan menemukan seseorang yang lebih pantas mendampingi
kehidupanmu. Dan tentu saja, seseorang itu bukan diriku.”
“Aku tidak akan membiarkan seorang
pun menggantikan posisimu di hatiku. Bisakah kau tetap berada di sampingku
untuk selamanya? Kau lihat, aku sudah kembali menemuimu. Maafkan aku, sudah
meninggalkanmu sangat lama dan baru bisa kembali saat ini. Sayangku, sebenarnya
banyak yang menentang kisah cinta kita, namun, aku tak peduli. Kaulah mawar
sejatiku, Mawar. Sebuah anugerah terindah yang telah Tuhan percayakan untuk
mengisi kehampaan hidupku. Kehadiranmu mengubahku, mengangkatku dari masa-masa
terpurukku. Ini semua berkat dirimu, Mawar. Aku sungguh mencintaimu.”
“Kau tahu? Sudah bertahun-tahun
silam aku melalukan hal itu padamu. Dan kau juga telah bertahun-tahun
meninggalkanku sendiri. Namun, sudahlah. Lupakan semuanya dan jalanilah
kehidupanmu seperti sedia kala, tanpa aku. Juga, lima menit kita akan berakhir
sebentar lagi. Terima kasih untuk segalanya, sayang. Aku mencintaimu.”
“Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku
tak ingin berpisah denganmu. Apa artinya diriku tanpa kau di sampingku?”
Perlahan-lahan, seiring detik-detik
lima menit berakhir, aku pun mengatakan kalimat terakhirku kepada Sang Waktu
dan kekasihku.
“Kepada Sang Waktu, terima kasih
atas lima menit yang sangat berharga ini. Sekarang jasadku bisa berbaring
tenang dengan kedamaian menyelimuti hatinya. Wahai kekasihku, ketahuilah, aku
memang sudah berbaring di bawah tanah ini, namun, kau masih tetap bisa menemui
diriku. Di atas tempatku berbaring ini tumbuh setangkai mawar merah. Mawar ini
akan hidup abadi di sini, sebagai penanda bahwa Mawar telah berbaring tenang
dan damai di bawahnya. Temuilah aku ketika fajar tiba, seperti kau biasa
menemuiku dahulu. Saat fajar, aku akan datang dengan rupa titik embun paling
berkilau yang membasahi mawar ini. Ingatlah, aku tidak akan pernah
meninggalkanmu.”
Lima menit telah berlalu. Sang Waktu
tersenyum kepadaku dan kepada kekasihku. Sejak itu, kekasihku selalu menemuiku
tiap fajar tiba. Sampai akhirnya, raganya turut berbaring di sampingku, dengan
setangkai mawar merah yang juga tumbuh di sebelah mawarku. Kami berdua terus
merajut cinta, baik di tengah teriknya matahari maupun di tengah badai yang
bergelora. Yang jelas, kami bersama-sama dapat merasakan kembali rintik-rintik
hujan yang membasahi bumi, membasahi kami. Juga melewati ratusan fajar dan
gelapnya malam bersama-sama, dengan bulan dan bintang-bintang sebagai saksinya.
Dia
benar-benar menepati janjinya dan tak pernah meninggalkanku lagi.
lopli, 2 Mei 2016
Comments
Post a Comment