Purnama dalam Kehampaan
“Andai
aku bisa menjadi sepertimu, wahai purnama. Dirimu jauh. Namun, dapat menerangi
seantero langit malam yang gelap ini. Aku yakin, siapa saja yang menikmati
lembutnya belaian cahayamu pasti merasa tenang dan nyaman hatinya. Begitu juga
apabila aku menjadi seperti dirimu. Tentu saja aku akan menerangi hati setiap
orang yang dirajai sang gelap, sehingga dapat beroleh pelitanya kembali.”
Entah sadar atau tidak, kata-kata tersebut terus terucap dari bibirku. Tak bisa juga terhapus dari benakku. Tiap hari aku menggerutu. Kesal. Lelah juga. Bagaimana tidak, hari demi hari telah berlalu, bahkan sudah berbulan-bulan aku menunggu kehadirannya kembali. Berjuta alasan dilontarkannya. Namun, aku percaya saja pada perkataannya.
***
“Kemana saja? Selama inikah? Mengapa
dia tak kembali?”
Entah sadar atau tidak, kata-kata tersebut terus terucap dari bibirku. Tak bisa juga terhapus dari benakku. Tiap hari aku menggerutu. Kesal. Lelah juga. Bagaimana tidak, hari demi hari telah berlalu, bahkan sudah berbulan-bulan aku menunggu kehadirannya kembali. Berjuta alasan dilontarkannya. Namun, aku percaya saja pada perkataannya.
Jadi, aku masih tetap menunggunya
kembali sampai hari ini. Walau tak ada tanda-tanda bahwa dirinya akan kembali,
namun aku tetap berada di sini. Menunggunya siang dan malam. Di tengah teriknya
matahari dan dinginnya rintik hujan yang membasahi. Saat ini aku memang
sendiri, walau sebenarnya tak sepenuhnya sendiri. Setidaknya teman-temanku yang
seringkali mengejek ulahku ini tetap setia mendampingiku. Sebagian dari mereka
tidak setuju kalau aku tetap meneruskan tindakanku ini. Entahlah. Tak dapat
kupingkiri, aku tak dapat menghentikannya. Hal ini sudah terlanjur, bahkan aku
terlalu malas untuk menghentikannya. Apa mungkin ini mengisyaratkan bahwa aku
memang bergantung padanya atau karena memang tabiatku yang malas? Aku sendiri
tidak tahu jawabannya. Aneh memang rasanya. Hanya dirinya yang bisa membuatku
menjadi aneh seperti ini. Padahal menurutku, tak ada yang spesial dari dirinya.
Malah pernah suatu ketika, dia berkata bahwa dirinya adalah lelaki yang tak baik.
Aku tak peduli. Menurutku, dialah
purnamaku. Purnama yang telah Tuhan percayakan untuk menerangi kehidupanku. Kehadirannya
membuatku terangkat dari masa lalu paling kelam yang pernah aku alami, dimana
aku selalu terjerembab di dalamnya dan sulit untuk bangkit dari keterpurukan
masa lalu. Kehadirannya mengubahku. Mengubahku menjadi seorang yang lebih baik.
Berkatnya, aku benar-benar tak ingat lagi akan kelamnya masa lalu itu. Ya, ini
semua berkat purnamaku itu.
Purnamaku tentu tidak datang dengan
tangan kosong. Dia membawa cahayanya yang damai, perlahan mengusap wajahku
dengan lembut, sehingga membuatku semakin nyaman berada di sisinya. Cahayanya
berhasil meluputkan kegelapan dari kehidupanku, seperti purnama yang menerangi gelapnya
malam. Dia membuat hari-hariku indah. Menghapus kesedihan yang pernah kualami dahulu.
Dia selalu bisa menyunggingkan senyum di wajahku, walau terkadang dia juga
membuatku menangis. Namun, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Sebab, aku tulus
mencintainya.
***
Hari semakin malam, hujan pula. Aku
kembali teringat akan dirinya. Aku bingung terhadap perasaan yang timbul atas
dirinya ini. Menurutku aneh. Sungguh aneh—semua hal memang aneh di hadapanku.
Saat ini, aku merasa benar-benar sendiri. Berdiam diri. Semua teman seolah menghilang
saat ini. Hanya aku dan suara rintik hujan yang menerpa deras dari balik
jendela. Keadaan seperti ini menghanyutkanku, membawaku kembali pada tahun
lalu, tahun dimana kali pertama aku berjumpa dengan dirinya. Telapak tanganku
seketika dingin, jantungku berdegup kencang. Benar-benar seperti nyata. Aku
melihatnya sedang melantunkan sebuah lagu. Sungguh. Kala itulah jiwaku merasa hidup
kembali.
“Apa mungkin aku jatuh cinta lagi? Ah,
mana mungkin”, gumamku. Setelah kejadian itu, aku makin tak bisa melepaskan
ingatanku padanya. Aku malah semakin penasaran, siapa dirinya itu. Kenal pun
tidak, bahkan aku tak tahu siapa namanya. Bagaimana mungkin bisa jatuh cinta
padanya?
***
Hari demi hari, minggu demi minggu
berlalu. Aku berhasil mengenal dirinya, begitupun dia terhadapku. Aku tak
menyangka, perjuanganku selama ini benar-benar membuahkan hasil. Sampai
akhirnya, aku dan dirinya menjalin sebuah ikatan kasih. Saking terharunya,
jatuhlah beberapa tetes air dari ujung mataku.
Aku mengira akan berlangsung lama,
sampai ke jenjang pernikahan. Tidak. Tidak ada kejelasan. Aku terhanyut dalam
kebingungan dan ketidakjelasan ikatan ini. Sebab, suatu hari dia tiba-tiba
berkata padaku bahwa dia harus pergi. Namun, ujarnya, dia tidak benar-benar
pergi, hanya sementara, dan suatu saat akan kembali ke pelukanku. Aku terkejut
akan ucapannya itu. Aku tak sanggup merelakannya pergi. Seketika itu juga berbagai
bayang-bayang negatif mulai menghantui pikiranku.
Kata-katanya saat itu bagai menghipnotis
diriku. Aku begitu saja percaya padanya, lalu membiarkannya pergi. Dia berjanji
akan kembali sehabis senja, ketika malam menyapa dan bulan purnama yang sangat
terang berkunjung untuk menghiasi gelapnya malam. Sebuah kalimat terakhir yang diucapkannya,
bertanya pada diriku, apakah aku akan menunggunya kembali atau tidak. Aku memang
tidak menjawabnya. Namun, seolah-olah dia tahu bahwa aku akan tetap berada di sini
untuk menunggunya kembali.
Memang, sampai sekarang dia belum
kembali, belum menepati janjinya. Aku rasa hanya omong kosong belaka. Seperti
dugaanku pertama kali, aku tak yakin akan ucapannya. Aku cinta padanya, tapi
aku tak percaya akan kata-katanya. Aku semakin bingung terhadap perasaanku
padanya selama ini. Apakah rasaku ini juga hanya semu belaka? Kalau benar semu
kenapa aku masih setia menunggunya?
***
“Tapi dia berjanji akan kembali.”
“Sudahlah. Apa sebegitu susahnya
melupakan dia? Pergi saja cari penggantinya. Kau sudah terlalu lama menunggunya
kembali. Bagaimana jika di tempat barunya sekarang, dia menemukan pengganti
dirimu?”
“Tidak mungkin.”
“Semua hal bisa terjadi.”
“Tapi yang kutahu, dia bukan orang
semacam itu.”
“Kita lihat saja. Lelaki biasanya
sulit menepati janji. Teruslah menunggu sampai kau membatu di sini.”
Sampai saat ini, tidak ada hal lain
yang dapat kulakukan selain menunggunya kembali. Sepertinya, hidup tidak
memberiku banyak pilihan selain untuk terus menunggu dan mencintainya. Aku akan
terus menunggu sampai harinya itu tiba.
Setiap usai senja, kala langit malam
menghadirkan purnama yang begitu berani memamerkan terang cahayanya, aku selalu
berdiri menatapnya—kalau-kalau dia kembali. Sungguh tenang hatiku kala menatap
purnama itu, bagai menatap dirinya sedang berdiri di hadapanku, dengan wajah
yang berseri-seri, sambil tersenyum. Namun, semilir kegelapan tiba-tiba hadir
ketika sekumpulan awan mulai menyelimuti purnama itu. Seketika itu juga,
ingatan lamaku kembali muncul.
Sebelumnya, aku dan dirinya pernah
bersama-sama melukis gelapnya langit malam dengan sebuah purnama yang sangat
indah. Dia berjanji akan menjadi seperti purnama, memancarkan cahaya untuk
mengusir kegelapan yang menerpa diriku. Membelai lembut wajahku sehingga aku
semakin hanyut mencintainya. Sangat sulit bagiku untuk melupakan itu. Namun,
semuanya berubah ketika awan yang tak kami duga, menghalau purnama kami itu. Itulah
saat terakhir kami melukis malam sebelum dia memohon padaku untuk pergi. Apa
karena hadirnya awan itu dia meninggalkanku di sini?
Sejak awal aku merasa bahwa dia
memang tidak serius menjalin hubungan denganku, atau dia hanya berpura-pura
dalam kesemuan perasaannya terhadap diriku. Bahkan aku tiba-tiba dikejutkan dengan
pemikiran bahwa alasan yang dilontarkannya itu hanya untuk menjauh dariku.
Tidak mungkin. Kalau hanya itu alasannya pergi, kenapa tidak dari awal dia
melakukannya? Saat ini kurasa dia sudah tahu bahwa dialah purnama dalam hatiku
yang akan terasa hampa tanpa dirinya. Hati yang kosong dan sepi. Hati yang tercabik-cabik
karena telah kehilangan dirinya yang pernah melukis malam bersamaku. Hati yang
dalam kehampaannya masih mengharapkan kehadirannya kembali. Hatiku
merindukannya.
Aku sudah lama tak melihat raganya, mendengar
suaranya. Bahkan, perlahan-lahan aku sudah mulai melupakan wajahnya yang manis
itu. Namun, hal itu malah membuat cintaku semakin dalam. Mencintai seseorang
yang tak pernah lagi kulihat raganya, juga wajahnya. Tiap kali diriku melalui
jalan yang pernah dilaluinya, mendengar lagu kesukaannya, bahkan melakukan
kegiatan yang pernah dilakukannya, jantungku masih dapat berdetak kencang.
Lamunanku kembali hadir. Apakah
diriku memang tak bisa menjadi seperti purnama yang dengan lembutnya
memancarkan cahaya, sehingga menjadi alasannya untuk pergi? Apa cahayaku belum
cukup untuk menerangi hatinya yang tengah dirajai sang gelap? Apa cahayaku tak
seperti purnama yang mampu menerangi seantero langit malam yang gelap, sehingga
dirinya tak dapat merasakannya di tempatnya berada?
Lamunanku pecah ketika kusadar
semilir angin berhembus kencang, mengusir kerumunan awan yang menutupi purnama
itu.
Malam bertambah malam. Langit
bertambah sunyi. Namun, cahayanya semakin terang, sehingga hati dan jiwaku
kembali meraih damainya. Dinginnya udara malam lama-kelamaan semakin menusuk
kulitku, merasuk sukmaku. Sudah selama ini, dan masih tidak ada tanda-tanda dirinya
kembali. Aku sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti ini.
“Wahai purnama yang masih setia
menemaniku di sini, kau tahu, aku sangat ingin menjadi seperti dirimu. Tapi,
aku tak bisa. Sangat sulit menjelma seperti dirimu, bahkan hanya sekadar
berpura-pura. Cahaya yang kupancarkan belum dapat menerangi seantero langit
malam. Hanya sekitaranku yang dapat merasakan cahaya dariku. Ajari aku agar aku
bisa menjadi sepertimu, wahai purnama. Dirimu jauh. Namun, cahayamu dapat kuraih,
sampai merasuk hati dan jiwaku. Aku yakin, perlahan-lahan aku pasti bisa
menjadi seperti dirimu. Memamerkan cahaya yang sangat terang, sehingga dapat
sampai di tempat dirinya berada. Membelainya, menyapanya, dan menyadarkannya
bahwa aku masih setia menunggu dirinya kembali.”
Cahaya purnama seolah menjawab
kata-kataku. Menyemangatiku agar aku terus berjuang untuk dapat menjadi seperti
dirinya. Cahayanya yang masih sangat terang, mengisyaratkan bahwa dia akan
tetap menemaniku, sampai lelaki itu kembali. Berlari dari kejauhan untuk
mencapaiku, lalu memeluk ragaku yang sudah hampir rapuh dimakan zaman.
“Teruslah lakukan apa yang kau
inginkan, sayang. Pergilah sejauh dan selama yang diinginkan hatimu. Aku tetap
berada di sini apapun yang terjadi, menunggumu kembali, sampai aku menjadi
purnama seutuhnya. Menghiasi langit malam, menemani siapa saja yang sedang lara
hatinya, gelap jiwanya. Bahkan, kau mungkin tak sadar, bahwa aku sudah tak
dapat memijak bumi kembali, karena aku benar-benar berada di langit yang jauh.
Sangat jauh darimu. Bukankah itu yang kau inginkan? Diriku sepenuhnya sudah
menjadi purnama langit, dan kau masih tetap sama seperti dahulu, sebagai
purnama bumi yang sempat menerangi dan
mengisi kehampaan hatiku untuk sebentar saja, yang kemudian menghampakan diriku
seutuhnya.”
Saat itulah, aku baru menyadari
bahwa dirinya memang lelaki yang tak baik. Dia tak menepati janjinya padaku.
Dia tak pernah hadir, bahkan setelah ribuan senja kusaksikan. Sampai suatu
ketika, pandanganku tertuju pada tempat diriku dahulu biasa menatap purnama.
Dirinya kembali. Namun, bersama purnama lain, pengganti diriku. Aku dapat
melihat cahayanya dan cahaya purnamanya sebenarnya sama-sama tidak begitu
memancar. “Salah satu dari keduanya pasti akan mengalami hal yang sama
sepertiku”, gumamku.
Kulihat dia memisahkan diri sejenak dari
punamanya, lalu menatap langit. Menatapku. Tatapan yang selama ini sudah tak
pernah terlihat, akhirnya dapat kurasakan kembali. Tatapan yang lembut, penuh
harap, dan kasih sayang. Dia pun mulai berbicara. Kala itulah kudengar suaranya
kembali setelah sekian lama. Suaranya yang menentramkan hati, menyapaku hangat,
namun dengan nada sedih.
“Wahai purnamaku, aku telah
kehilangan banyak waktu untuk mencari purnama lain. Kupikir aku akan bisa
menemukan purnama yang lebih baik darimu. Tapi, aku salah. Aku sadar, aku
melakukan kesalahan besar. Aku sangat menyesal karena aku tidak berpikir
panjang saat itu. Aku langsung pergi meninggalkanmu, juga berjanji untuk
kembali. Maafkan aku. Inilah diriku, yang baru bisa kembali saat ini setelah
sekian lama. Aku telah kehilangan dirimu, purnamaku. Kaulah purnama sejatiku.
Hanya kau yang bisa menerangi diriku sepenuhnya. Aku merasa kehampaan
menyelimuti diriku ketika kumenyadari bahwa tanganku tak dapat meraihmu lagi.
Aku merindukanmu. Sungguh, izinkan aku memelukmu sekali saja.”
Alam mendengar perkataannya. Keajaiban
terjadi. Sang Khalik memberikan kuasanya atasku untuk turun ke bumi menemui
lelaki itu. Perlahan, rupaku berubah menjadi wujud manusia kembali,
bermahkotakan purnama, dengan gaun bercahaya yang menjuntai. Lalu, tepat
berdiri di hadapannya.
Saat itu, langit sementara menjadi
gelap gulita, sebab penerangnya sedang berada di bumi. Lelaki itu terdiam,
meneteskan air matanya. Aku menatapnya, membelai wajahnya dengan cahayaku yang
lembut. Aku hanya tersenyum melihatnya. Ternyata, waktu tak memberikanku banyak
kesempatan untuk tetap berada di bumi. Dia tak sempat memelukku. Dia hanya
dapat meraih tanganku sebentar saja, sebelum aku terangkat kembali ke langit.
Lama-kelamaan, genggaman tangannya terlepas dari tanganku. Aku semakin pergi
jauh darinya. Dia tak dapat berbuat apa-apa, selain hanya menatapku dari bumi
tempatnya berpijak.
Inilah diriku, wahai purnama bumiku.
Diriku yang dahulu kau tinggalkan sendiri, yang hampir merasa putus asa karena
tak dapat menjadi purnama yang begitu terang. Inilah diriku. Dalam rupa sebuah
benda langit yang mampu memberikan cahayanya bagi seantero langit malam,
mengusir kegelapan yang melanda bumi. Kuharap hidupmu sekarang menjadi lebih
baik, lebih bertanggung jawab, terutama terhadap purnama yang mendampingimu
saat ini. Jangan kau biarkan cahayanya redup. Jangan kau biarkan dirinya
menjadi seperti diriku. Berada di langit yang penuh kehampaan tanpa merasakan
cinta dari lelaki pujaannya. Sekarang aku memang sendiri di sini, berdampingan
dengan benda-benda langit lainnya. Namun, aku merasa bahagia. Aku bisa
merasakan damai dan kebahagiaan di bumi dari orang-orang yang mencintaiku,
menanti kehadiranku setelah senja pergi. Menikmati cahayaku yang selalu menyapa
di langit malam yang cerah. Juga menjadi saksi bagi siapapun yang bersama-sama
melukis malam di hadapanku.
“Selamanya aku akan berada di sini.
Tanpa dirimu, wahai purnama bumiku. Pergilah sejenak ke luar rumahmu, tepat
ketika malam hari menyapa, apabila dirimu merasa sedang diterpa keras oleh
angin ribut kehidupan. Seketika itu juga, aku akan hadir menghiasi langit
malam, membawa cahayaku, mengusir gelapnya malam dan kegelapan di bumi. Kuyakin
benar cahayaku akan membawa ketenangan dalam hatimu. Jangan khawatir. Aku bisa
mengatasi segala keluh kesahmu. Namun, terkadang aku juga bisa merasa sedih.
Saat itulah aku akan memanggil awan-awan untuk menyelimutiku. Tentu aku tak
akan membiarkan kesedihan itu berlarut-larut, sebab orang-orang di bumi sudah
menunggu diriku dan cahayaku. Ingatlah perkataanku ini. Aku berjanji padamu.”
***
“Bangunlah dari tidurmu, sayang. Kutahu
hatimu sedang lara. Mari ikutlah bersamaku ke luar rumah. Mau melukis langit
malam bersamaku?”
lopli
Comments
Post a Comment